USD/JPY Menembus 115,00 di Tengah Imbal Hasil yang Lebih Kuat Jelang Data NFP AS
- USD/JPY melanjutkan kenaikan hari sebelumnya yang mengkonsolidasikan penurunan mingguan, menyegarkan tertinggi intraday akhir-akhir ini.
- MenKeu Jepang Suzuki mengutip posisi fiskal negara yang parah, Tokyo memperketat pembatasan aktivitas karena penularan covid menyegarkan rekor tertinggi.
- Bank sentral yang hawkish mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS menjelang laporan lapangan pekerjaan utama.
USD/JPY mengambil tawaran beli untuk menyegarkan tertinggi harian di sekitar 115,05 sambil memangkas penurunan mingguan saat pasar Tokyo dibuka untuk perdagangan hari Jumat.
Dengan demikian, pasangan yen ini mengambil petunjuk dari imbal hasil obligasi pemerintah AS dan kondisi ekonomi yang suram, serta Covid, di dalam negeri. Dengan itu, harga mengalami kenaikan paling tinggi dalam seminggu di hari sebelumnya setelah bank sentral utama mengumumkan bias hawkish di tengah kekhawatiran inflasi.
Baru-baru ini, Menteri Keuangan Jepang (MenKeu) Shunichi Suzuki mengatakan, "Posisi fiskal yang mendasari Jepang telah menjadi parah." Pengambil kebijakan itu juga menyebutkan bahwa dia tidak mempertimbangkan untuk meninjau tarif pajak penjualan di masa depan saat ini.
Di halaman yang berbeda, Tokyo berada di bawah tekanan besar untuk mengumumkan keadaan darurat yang disebabkan oleh virus Corona karena Jepang, sayangnya, mencatat penularan harian di atas 1.00.000 untuk pertama kalinya. “Tokyo pada hari Kamis meluncurkan serangkaian tolok ukur baru dalam mempertimbangkan permintaan keadaan darurat COVID-19, seperti jika tingkat hunian tempat tidur rumah sakit yang dijamin untuk pasien dengan gejala serius telah mencapai ambang batas 30 hingga 40 persen,” kata Kyodo News.
Pada hari Kamis, BOE menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25% sedangkan ECB menahan diri untuk menolak kenaikan suku bunga yang lebih cepat dan malah lebih mengisyaratkan perubahan kebijakan besar, tanpa memberikan banyak perincian sekalipun. Tindakan bank sentral tersebut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS yang terbanyak dalam seminggu, juga menenggelamkan ekuitas. Patut diperhatikan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah AS berdurasi 10-tahun naik 1,5 basis poin (bp) menjadi 1,84% baru-baru ini, sedangkan Kontrak Berjangka S&P 500 naik 1,0% meskipun indeks Wall Street turun.
Selain bank sentral, meningkatnya ketegangan geopolitik atas Rusia-Ukraina juga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga USD/JPY. Kyodo News baru-baru ini melaporkan bahwa Jepang sedang mempertimbangkan untuk mengirim gas ke Eropa di tengah ketegangan Ukraina.
Berbicara tentang data, IMP Jasa ISM AS untuk bulan Januari dan Produktivitas Nonpertanian Kuartal 4 datang dengan kuat tetapi Pesanan Pabrik untuk bulan Desember dan Biaya Tenaga Kerja Kuartal 4 Unit melemah, yang pada gilirannya membuat perdagangan bersiap siaga menjelang Nonfarm Payrolls (NFP) utama AS untuk bulan Januari.
Ke depan, para pedagang USD/JPY akan mengawasi perincian lapangang pekerjaan AS untuk dorongan baru.
Baca: Pratinjau Nonfarm Payrolls: Win-Win-Win untuk Dolar? Ekspektasi Rendah, Greenback yang Lemah Mengarah Lebih Tinggi
Analisis Teknis
Pemantulan yang berhasil dari level 50-DMA mengisyaratkan kenaikan USD/JPY menuju garis resistance bulanan di dekat 115,55.