USD/IDR Melesat, Rupiah Anjlok ke 15.635 setelah Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Merosot Tajam

  • Rupiah tumbang ke 15.635 setelah Surplus Neraca Perdagangan Indonesia anjlok dan karena menguatnya Dolar AS setelah rilis IHP AS yang panas semalam.
  • Surplus data Neraca Perdagangan Indonesia bulan Februari hari ini merosot ke USD 0,87 Miliar, tunggu data AS.
  • USD/IDR harus menutup di atas level Fibonacci Retracement 50% di 15.612 agar dapat melanjutkan kenaikannya.

Rupiah (IDR) melemah di 15.635 melawan Dolar AS (USD), turun 0,39%, pada saat berita ini ditulis di sesi perdagangan Asia. Pada perdagangan hari Rabu lalu, pasangan USD/IDR membentuk terendah di 15.559 hanya beberapa poin lebih tinggi dari swing low 15 Februari di 15.554. Kemarin (14/03/2024), pasangan mata uang ini menghentikan pergerakan turunnya yang telah berlangsung dari hari Rabu, 13 Maret dan hanya bergerak dalam kisaran sempit di sekitar 15.573-15.586. Hari ini, Rupiah tertekan karena surplus data Neraca Perdagangan Indonesia lebih buruk dari estimasi dan angka sebelumnya, belum lagi ditambah dengan Dolar AS yang sedang menguat.

Hari ini Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia telah merilis data Neraca Perdagangan untuk bulan Februari, surplus yang tercatat merosot tajam ke USD 0,87 Miliar lebih lemah dari angka sebelumnya di USD 2,01 Miliar dan di bawah estimasi pasar di USD 2,32 Miliar. Menurut laporan BPS, surplus Neraca Perdagangan terutama berasal dari sektor nonmigas sebesar USD 2,63 Miliar, namun tereduksi oleh defisit sektor migas senilai USD 1,76 Miliar. Nilai Ekspor Februari secara tahunan turun sebesar 9,45%, nilai Impor tahunan untuk bulan yang sama melonjak 15,84%. 

Perincian dari laporan BPS tersebut, menyebutkan bahwa besi dan baja adalah komoditas dengan penurunan terbesar dalam ekspor dibandingkan dengan bulan Januari 2024 sebesar USD 622,5 Juta (27,08%). Impor migas di bulan Februari 2024 naik 10,42% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Impor nonmigas turun 2,12%. Barang impor nonmigas dengan peningkatan terbesar adalah kendaraan, senilai USD 87,5 juta (13,36%).

Di sisi lain, setelah mendapatkan dorongan semalam dari data makro di AS, Indeks Dolar AS (DXY) terlihat melonjak ke 103,20 beberapa jam setelah rilis data tersebut dengan DXY pagi ini bergerak di sekitar level 103,48. Data IHK AS bulan Februari yang dirilis pada hari Selasa lebih kuat dari estimasi, hal ini juga terjadi pada data IHP. Penguatan data inflasi konsumen dan inflasi produsen tersebut diprakirakan akan semakin memperburuk ketidakpastian terhadap ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan kebijakan bulan Juni. Akibatnya, Dolar AS menguat, hal ini mencerminkan adanya pergeseran sentimen menuju sikap netral yang berpotensi lebih tinggi pada suku bunga.

Menurut perincian yang dilaporkan Biro Sensus Amerika Serikat, Penjualan Ritel AS secara bulanan naik kurang dari yang diantisipasi ke 0,6% setelah kontraksi ke 1,1% yang direvisi dari -0,8% pada Januari, lebih rendah dari prakiraan di 0,8%. 

Sementara, Indeks Harga Produsen (IHP) yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS, menunjukkan bahwa angka IHP (MoM) meningkat ke 0,6% dari 0,3% pada konsensus dan angka sebelumnya, IHP (YoY) meningkat ke 1,6% menyusul kenaikan 1% yang direvisi dari 0,9% yang tercatat di Januari dan di atas estimasi pasar 1,1%. IHP Inti tahunan dan bulanan naik, masing-masing ke 2% dan 0,3%.

Klaim Tunjangan Pengangguran Awal mingguan AS untuk pekan yang berakhir tanggal 9 Maret, dirilis bersamaan dengan dua data utama di atas, turun ke 209 ribu, lebih baik dari prakiraan 218 ribu dan angka sebelumnya di 210 ribu (direvisi dari 217 ribu). 

Nanti malam, di sesi perdagangan AS, data Produksi Industri bulan Februari dan Indeks Sentimen Konsumen pendahuluan Michigan bulan Maret akan dicermati oleh para pedagang menjelang akhir pekan ini, sebelum Keputusan Suku Bunga The Fed dan dot plot baru yang memberikan proyeksi suku bunga – dijadwalkan pada hari Rabu depan. 

Analisis USD/IDR: Berpeluang Naik ke 15.667 Bila Menutup di Atas Level Fibonacci Retracement 50% 

Setelah memantul dari level Fibonacci Retracement 61,8% di 15.557 pada hari Rabu, 13 Maret lalu, USD/IDR melonjak hingga menembus level Retracement 50% dan mencapai level 15.635. Pergerakan pasangan mata uang ini sedang tertahan oleh indikator Simple Moving Average (SMA) 50, sebelum level resistance pada Retracement 38,2% yang terletak di 15.667. Bila harga mampu menutup di atas level Fibonacci Retracement 50% di 15.612 harga berpeluang meneruskan kenaikan hingga ke 15.667 (Retracement 38,2%). Kegagalan untuk menutup di atas level Retracement 50% akan memungkinkan harga untuk menguji kembali level Retracement 61,8% untuk yang ketiga kalinya.

Grafik Harian USD/IDR

 

Pertumbuhan Uang Beredar Republik Korea Januari Naik Dari Sebelumnya 2.8% ke 4.3%

Pertumbuhan Uang Beredar Republik Korea Januari Naik Dari Sebelumnya 2.8% ke 4.3%
Devamını oku Previous

USD/CNY Menguat ke 7.1949, Yuan Semakin Merana setelah Indeks Harga Rumah Anjlok ke -1,4%, Tunggu Data AS

Hari ini Yuan Tiongkok (CNY) masih terus melemah ke 7.1949, berkurang 0,03% setelah Indeks Harga Rumah di Tiongkok anjlok. Pasangan USD/CNY melesat ke tertinggi 7,1938 pada perdagangan kemarin, dan tertinggi sementara hari ini di 7,1963, mengikuti Dolar AS yang menguat setelah rilis data Indeks Harga Produsen dan Penjualan Ritel AS yang lebih kuat. People's Bank of China (PBoC) menetapkan kurs tengah USD/CNY pada 7,0975 untuk hari ini.
Devamını oku Next