Pasar Saham Asia: Masih Berada di Bawah Tekanan di Tengah Kekhawatiran Ekonomi RRT

  • Pasar saham Asia diperdagangkan di wilayah negatif pada hari Rabu.
  • Indeks harga rumah di Tiongkok untuk bulan Juli turun menjadi -0,1% dibandingkan 0% sebelumnya.
  • Para investor akan mengawasi kemungkinan intervensi mata uang oleh Bank of Japan (BoJ).
  • Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah di 5,5%.
  • Para pelaku pasar akan mencermati notulen FOMC dan komentar dari para pejabat The Fed.

Pasar saham Asia tetap berada di bawah tekanan jual dan melemah pada hari Rabu. Sentimen kehati-hatian terbebani oleh angka Penjualan Ritel AS yang mengecewakan dan kekhawatiran akan data Tiongkok yang mengecewakan.

Pada saat berita ini diturunkan, Shanghai di RRT turun 0,25% menjadi 3,168, Indeks Komponen Shenzhen merosot 0,22% menjadi 10,655, dan Hang Sang di Hong Kong merosot 1,39% menjadi 18,323. Indeks NIFTY 50 India turun 0,46%, Kospi Korea Selatan merosot 1,43%, dan Nikkei Jepang kehilangan 1,05%.

Di RRT, ketiga indeks saham turun selama empat hari berturut-turut. Data terakhir pada hari Rabu menunjukkan bahwa Indeks Harga Rumah di Tiongkok untuk bulan Juli turun menjadi -0,1% dibandingkan 0% sebelumnya. Data ini menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan krisis properti di RRT, terutama karena pengembang besar Country Garden Holdings berjuang untuk memenuhi kewajiban hutangnya.

Selanjutnya, People's Bank of China (PBoC) memangkas suku bunga Fasilitas Pinjaman Jangka Menengah (MLF) satu tahun dari 2,65% menjadi 2,50% pada hari Selasa. Sementara itu, Penjualan Ritel RRT untuk bulan Juli berada di 2,5% YoY dibandingkan dengan 4,8% yang diharapkan dan 3,1% sebelumnya, sementara Produksi Industri RRT turun menjadi 3,7% YoY dibandingkan dengan 4,5% yang diharapkan dan 4,1% sebelumnya. Lebih banyak bukti dari kemerosotan ekonomi RRT menekan pasar saham regional dan aset-aset yang sensitif terhadap risiko.

Di Jepang, Nikkei diperdagangkan pada level terendah sejak 12 Juli, meskipun data Produk Domestik Bruto (PDB) awal yang optimis pada hari Selasa. Pertumbuhan ekonomi Jepang adalah 1,5% QoQ, dibandingkan dengan 0,8% yang diharapkan dan 0,5% sebelumnya. PDB tahunan meningkat menjadi 6,0% dari prakiraan 3,1% dan 2,8% sebelumnya. Namun, para investor akan mengawasi kemungkinan intervensi mata uang oleh BoJ.

Menteri Keuangan Shunichi Suzuki menyatakan pada hari Selasa bahwa pergerakan yang cepat "tidak diinginkan" dan pemerintah "siap untuk merespon secara tepat," sambil menekankan bahwa tidak ada level tertentu yang dimaksudkan untuk intervensi, demikian dikutip dari Reuters.

Pada hari Rabu, Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah di 5,5%, seperti yang diharapkan. Gubernur RBNZ Adrian Orr juga memberikan sinyal hawkish untuk mengendalikan ekspektasi inflasi yang meningkat.

Ke depan, para pelaku pasar akan mengamati dengan seksama notulen FOMC dan komentar-komentar dari para pejabat The Fed untuk mendapatkan dorongan baru. Peristiwa-peristiwa ini dapat memberi petunjuk untuk kebijakan moneter Fed lebih lanjut dan memberi arah untuk aset-aset berisiko seperti ekuitas, mata uang yang sensitif terhadap risiko, dll. Selain itu, data Perdagangan Jepang dan Indeks Harga Konsumen Nasional tahunan untuk bulan Juli akan dirilis dari Jepang akhir pekan ini.

AUD/USD Memantul dari Level Terendah Baru YTD, Kurang Tindak Lanjut Setelah Pertengahan 0,6400-an

Pasangan AUD/USD pulih beberapa pip dari area 0,6430-0,6425, atau level terendah baru sejak November 2022 yang disentuh selama sesi Asia pada hari Rab
مزید پڑھیں Previous

Analisis Harga USD/MXN: Penjual Peso Meksiko Menunjukkan Kekuatan, 17,20 Menjadi Sorotan

USD/MXN turun ke 17,35 karena para pembeli berjuang untuk mempertahankan kendali di tengah konsolidasi pasar menjelang notulen rapat kebijakan moneter
مزید پڑھیں Next